Selasa, 14 September 2010

Mudik untuk Tujuan Takwa

Oleh: Ahmad Munjin


(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Mudik merupakan rutinitas tahunan. Tujuannya adalah silaturahmi. Namun, sejatinya pemudik lebih mementingkan takwa karena mudik terkait erat dengan puasa. Alhasil, mudik jangan melupakan puasa maupun makna silaturahmi itu sendiri.

Guru besar perbandingan agama, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kautsar Azhari Noer mengatakan mudik bukan hanya rutinitas tahunan tanpa makna. Melainkan, menjalankan perintah agama untuk memelihara, membina, dan memperkuat silaturahmi.

Silaturrahmi untuk berbagi kebahagiaan, menyambung hubungan yang sudah putus atau meneruskan yang sudah terjalin. Tapi karena mudik terkait puasa, tujuan takwa harus diutamakan. “Saya khawatir pemudik malah melupakan puasa dan takwanya,” katanya dalam sebuah kesempatan.

Takwa bermakna ‘memelihara diri’ yang berasal dari kata waqa. Artinya, memelihara atau berjaga-jaga. Karena itu, takwa adalah memelihara diri dari sesuatu yang membuat menderita atau segala sesuatu yang membahayakan diri baik di dunia maupun di akhirat.

Pada kenyataannya, puasa lebih cenderung didominasi unsur komersialisasinya ketimbang tujuan spiritualnya yaitu takwa. “Nggak salah sih orang bergerak di bidang komersil tapi kadang-kadang tujuan utamanya dilupakan,” tukasnya.

Menurut Kautsar belanja makanan lebih banyak justru pada bulan puasa. Padahal logikanya, karena puasa seharusnya belanja makanan lebih sedikit dibandingkan bulan biasanya. Ibadah yang lain pun bahkan sering menonjolkan unsur komersilnya dibandingkan unsur ibadahnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik sendiri berasal dari kata “udik” yang berarti sungai di sebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) di hulu sungai. Kata itu mengandung makna positif, yaitu bagian atas sungai atau bagian kepala sungai yang dekat sumber mata air, sehingga jernih dan belum terkena polusi.

Namun ada makna kedua dalam KBBI, yaitu “udik” berarti desa, dusun, kampung (lawan dari kota). Sayangnya kesan yang berkembang di masyarakat cenderung ke arah konotasi negatif karena “orang udik” atau “orang dusun” sering dikaitkan dengan kebodohan dan kurang tahu sopan santun. Lalu, mengapa orang harus repot-repot menjalankan tradisi itu?

Sosiolog, Munandar Sulaiman mengungkapkan banyak nilai yang terkandung dalam tradisi mudik. Misalnya, selain menjaga silaturahmi dengan kerabat di kampung halaman atau jauh juga agar manusia tetap ingat kepada asal-muasalnya.

Mudik juga bisa jadi momen “unjuk diri” yaitu ajang di mana pemudik menunjukkan eksistensi dan keberhasilan seseorang selama di perantauan kepada masyarakat tempat dia berasal. ”Ya, makna mudik mulai mengalami pergeseran nilai dengan terkontaminasi oleh adanya kegiatan pamer kekayaan,” imbuhnya.

Tanpa disadari masyarakat kampung ternyata ikut mulai terkontaminasi oleh budaya feodal tersebut. Mereka, lanjut Munandar cenderung lebih menghargai mereka yang membawa kendaraan, harta benda yang banyak dan mentereng ketimbang yang tidak punya apa-apa. “Padahal seharusnya hikmah mudik yang terbesar dan dikedepankan adalah momentum kembali ke fitrah,” ucapnya.

Bukan pamer kekayaan, melainkan sungkem dan berbaik-baikan pada orang tua. “Karena pertemuan dengan orang tua, kerabat, saudara, sahabat mampu menjadi motivasi/spirit yang luar biasa,” pungkasnya. [E1]

Tentang Makna “Mudik ke Kampuang Nan Jauh di Mato”

Rasanya, kita perlu berbangga kepada bangsa kita sendiri karena memiliki berbagai macam tradisi. Tradisi yang menjadi andalan. Tradisi yang benar-benar hanya ada di Indonesia, saban tahun. Mudik telah menjadi kesibukan tersendiri yang menjadi fenomenan budaya yang menarik. Berbondong-bondong masyarakat bergerak serentak menuju kampung halamannya masing-masing, hanya demi satu maksud : merayakan hari sakral di tempat mereka berasal. Kampung halaman telah menjadi semacam ruang masa lalu.

Kampung halaman menjadi suatu teritorial eksotis yang dipertentangkan dengan kota. Dia─kampung halaman─diimajinasikan sebagai tempat berteduh untuk mendapatkan rasa aman eksistensial dan menemukan kembali inspirasi. Dia merupakan pelepasan dari cengkeraman kota yang penuh hiruk-pikuk dan segala aroma persaingannya. Kampung halaman adalah sebuah tempat perenungan manusia tentang hakikat darimana ia berasal, tentang hakikat awal kejadian manusia.

Kesadaran ini memiliki sangkut-pautnya dengan penafsiran ihwal kesakralan Idul Fitri, puncak dari proses pembersihan jiwa─melalui proses Ramadhan─saat manusia lahir kembali dan mencapai fitrahnya sebagaimana awal mulanya. Tempat bermula inilah yang dibaratkan pada kampung halaman dan keluarga. Maka, jangan heran jika budaya mudik ini terus berlangsung setiap tahun, entah sejak kapan dan siapa pencetusnya.

Jangan heran pula, jika sebagian (besar) orang yang mudik rela melakukan apapun demi mencapai kampung halamannya. Gerak serentak para pemudik membuat urat nadi perekonomian semakin berdenyut kencang. Segala hambatan tak pernah menyurutkan keinginan untuk hadir di kampung halaman karena mudik adalah upaya untuk menghadirkan tubuh di kampung halaman. Hadirnya tubuh di kampung halaman tak bisa diwakilkan oleh kecanggihan alat komunikasi atau kemajuan teknologi apapun. Kehadiran menjadi mutlak.

Mudik juga dapat dipandang sebagai ritual tahunan manusia urban untuk kembali bersilaturahmi dengan masa lampau─disimbolkan oleh kampung halaman tempat dia berasal. Masyarakat merantau ke berbagai penjuru daerah untuk mengadu nasib, “diceraikan” dari kampung halamannya oleh kewajiban mencari nafkah. Pada suatu saat, harus ada perayaan sebagai momen untuk kembali berkumpul. Perayaan apa yang lebih besar dari momen Idul Fitri? Di momen magnetis itulah, semua berkumpul untuk bernostalgia tentang kenangan-kenangan lama dan merencanakan pencapaian-pencapaian baru.

Dalam konteks masa kini, ketika teknologi menjadi sandaran, dikotomi kampung halaman dan kota adalah jarak yang semakin kabur, menjadikan dunia serasa datar dan tak berbatas. Keduanya hanya dipisahkan oleh jarak secara fisik, tapi tidak secara kultural. Teknologi informasi dan tontonan televisi telah menjadi sihir yang merasuki budaya masyarakat. Nuansa kampung halaman tidak lagi dihidupi oleh etos desa seperti dulu, ketika sawah-sawah masih hijau, ketika peralatan tradisional masih menjadi andalan. Namun, kini semua telah beralih, pelan tapi pasti. Tak sedikit masyarakat pedesaan yang memiliki mental dan orientasi budaya layaknya orang kota.

Pulang kampung kini tidak sekedar proses mekanis perpindahan secara fisik dari kota ke kampung halaman. Kini, pulang kampung telah dimuati dengan unsur status sosial, mengusung gaya hidup modern, bahkan mungkin ada yang bermuatan politis. Namun, yang menjadi masalah kini adalah bagaimana memaknai pulang kampung atau mudik bukan sekedar event tahunan, tapi justru makna di balik itu. Apakah kita masih menemukan makna kampung halaman seperti dulu? Tempat bagi kita berkontemplasi ke masa lalu.

Mudik benar-benar telah menjadi panggung drama kolosal yang mempertontonkan unsur budaya, sosial, hingga ekonomi─atau mungkin juga politis. Dengan mudik, jembatan nostalgia disambungkan kembali. Menghadirkan gambaran suasana desa yang hening di tengah perangai kota yang memabukkan. Mudik lebaran adalah gerak eksodus yang spontan dari warga keluarga jaringan yang tercerai oleh gerak pencarian nafkah dan tuntutan ilmu.

Dalam mudik, kehangatan kekeluargaan itu terbangun kembali. Silaturahmi terjalin erat, persaudaraan semakin merasakan buah manisnya. Semangat kekeluargaan yang dijangkarkan pada semangat sabilulungan. Akhirnya, selamat mudik bagi kawan-kawan yang mudik, semoga selamat sampai di tujuan dan semoga terus terjalin ikatan kekeluargaan di antara kita.

Kampuang den nan jauah di mato
Gunuang sansai bakuliliang
Takana jo kawan-kawan den lamo
Sangkek basuliang-suliang

Panduduaknyo nan elok
Nan suko bagotong-royong
Susah sanang samo samo diraso
Den takana.. jo kampuang

Reff. :

Takana….. Jo kampuang…..
Induak ayah adiek sadonyo

Raso maimbau-imbau den pulang
Den takana jo kampuang….

…Takana….. Jo kampuang…..
…Takana….. Jo kampuang…..

fr. http://rizaldp.wordpress.com


Apa seh arti “mudik” ?


Pagi ini cukup membuat badan ingin tetap berleha-leha di atas tempat tidur. Hujan yang tak kunjung henti, udara yang sangat sejuk menyapa saya pagi ini. Rencana untuk ke kampus pagi ini terpaksa batal karena “hujan”, sebetulnya hujan bukan jadi alasan seh, lebih tepatnya “malas”..hehe;p sekali-sekali saya bersahabat dengan rasa malas. Hehe

Tidur saya sangat nyenyak kemarin malam, meski saya bermimpi sesuatu hal yang sangat tidak mengenakkan yang membuat saya terbangun lebih cepat hari ini. Yah, tidur saya lebih nyenyak malam ini karena kemarin malam saya habis bertemu dengan sahabat-sahabat SMA saya. Moment lebaran atau bulan puasa adalah moment reunian bagi saya, maklum setiap bulan tersebut pasti ada sekitar minimal lima kali “buka puasa bersama” saya ikuti. Dari teman SD, SMP, SMA, D3, temu kangen lebih tepatnya.hehe

Salah satu hal yang selalu ditanyakan saat saya dan sahabat berkumpul pada saat bulan ramdhan adalah “Eh…pada mudik gak?” . Pertanyaan biasa yang selalu saya dan teman-teman saya jawab. Tapi kemarin malam saya tiba-tiba bertanya pada diri saya “Mudik artinya kan pulang kampung, di sadap dari bahasa mana yang kata mudik itu?” Pertanyaan gak penting yang seketika terbersit dalam pikran saya.hehe

Sampai pada akhirnya pagi ini saya coba mencari tahu apa arti dan esensi kata mudik itu. Dan ternyata kata “mudik” itu berakara dari kata “udik”, dimana udik itu berarti kampung atau desa yang lawan katanya adalah kota. Ini seperti istilah arab ‘ badui’ sebagai lawan dari kata hadhory. Sehingga dengan sederhana bisa diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman. Yah, arti yang semua orang sudah tahu. Dan ternyata struktur tatanan kata ‘mudik’ sebenarnya sangat tidak aneh dalam bahasa arab lho.

Oh ya, dalam buku Kebudayaan Koentjaraningrat , Mentalitas dan Pembangunan menyebutkan bahwa suatu sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Dan ternyata dalam sistem kebudayaan tersebut masyarakat menganggap sebuah laku kebudayaan amat bernilai dalam hidupnya. Tak terkecuali mudik. Jadi mudik seolah menjadi suatu keniscayaan. Sehingga menjadi kebudayaan yang memiliki sistem nilai jiwa umat Islam.

Nah, saya juga dapat informasi dari salah satu nara sumber Bapak Google mengenai beberapa arti kata “mudik”. Ini dia :

Mudik dari akar kata “ adhoo-a” yang berarti “ yang memberikan cahaya atau menerangi”
Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’ atau menerangi kampung-kampung halaman mereka.

Mudik dari akar kata “ Adhoo-‘a”, yang berarti “ yang menghilangkan “
Selanjutnya, mudik berasal dari bahasa arab yang berarti : orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua, keluarga atau kampung halamannya. Karenanya mereka melakukan aktifitas mudik , dalam rangka ‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut.

Mudik dari akar kata “ adzaa-qo” yang berarti “ yang merasakan atau mencicipi “
Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran.

Yah…itu informasi yang saya dapatkan mengenai esensi dari kata mudik, tapi dari manapun asalnya dan entah kapan mudik itu mulai dilakukan oleh masyarakat Indonesia, tetap saja yang namanya budaya akan tetap selalu ada dan tidak terpikir sedikitpun dalam pikran saya dimana pada hari lebaran suatu saat nanti masyarakat Indonesia tidak berbondong-bondong untuk pulang kampung. Kayanya gak mungkin yah..hehe;p,dan gak seru juga.hehe..Yah,,,itulah serunya perayaan salah satu hari besar keagamaan, lagi-lagi setiap tahun Indonesia selalu diramaikan oleh kegiatan mudik tersebut. Tapi mungkin saja lho jika penduduk Indonesia tidak ada yang melakukan urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota). Yah…bagaimana saya tidak menyimpulkan hal tersebut, karena hampir seluruh penduduk kota Jakarta berasal dari luar kota Jakarta. Oleh karena itu moment lebaran dijadikan moment untuk kembali ke kampung halamannya atau dengan kata lain mudik dimaknai sebagai proses kembalinya masyarakat urban, perantau ke kampung halaman.

Jika boleh saya simpulkan maka tradisi mudik menjelang perayaan Idul Fitri memang sudah menjadi kultur atau budaya negara kita sehingga saya memahaminya sebagai “mudik kultural”. Mudik sebagai fenomena kultural yang sangat unik adanya dan mungkin hanya satu-satunya di penjuru dunia (hebat yang negara kita^^). Fenomena mudik yang memang sangat menyita banyak perhatian dari seluruh kalangan; pemerintah, ekonom, sosiolog, hingga aparat kepolisian sehingga harus mengawal arus mudik dan arus balik dari komunitas pemudik pengguna sepeda motor. Dan jika dikaitkan dengan bidang yang sedang saya geluti sekarang, hampir semua perusahaan berlomba untuk memberikan service dan kemudahan bagi para pemudik untuk pulang ke kampung halamannya. Posko-posko gratis, mudik bersama, dan kegiatan lainnya (yang merupakan kegiatan CSR) merupakan beberapa cara yang dilakukkan untuk mengangkat citra perusahaan mereka.

Ternyata mudik tersebut memberikan banyak efek positif bagi semua pihak atau kalangan. Sekarang yang perlu diwaspadai adalah “hati-hati” dalam melakukan mudik. Semoga mudik tahun ini arus kemacetan, tingkat kecelakaan, tingkat kematian dan tingkat kriminalitas berkurang. Dan semua yang berpergian dapat kembali ke rumahnya dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun dan dapat kembali beraktifitas seperti hari-hari biasanya.

The Last…
Memang ternyata hari besar keagamaan (dalam hal ini khususnya Idul Fitri) menjadi sebuah peristiwa yang membuat berbagai konflik sedikit terlupakan. Tidak ada lagi sekat-sekat kesenjangan karena semua strata sosial dalam masyarakat berbaur. Ketika itu rakyat jelata saling bersalaman dengan pimpinannya, kaum fakir saling berkunjung dengan ulama panutannya. Semua bisa saling berkomunikasi baik dengan sesamanya maupun dengan warga kampung lainnya.

Selamat mudik ^_^

fr. http://duniadianita.wordpress.com


Jumat, 03 September 2010

Daftar 10 Yang Sukses Tanpa Ijazah


1. Andy F.Noya

Andy F.Noya
PimRed Metro TV ini belum lulus sarjana… Satu hal yang menarik, Andy sebenarnya adalah orang teknik. Sejak lulus SD Sang Timur di Malang, Jawa Timur, pria kelahiran Surabaya ini sekolah di Sekolah Teknik Jayapura lalu melanjutkan ke STM Jayapura. “Tetapi sejak kecil saya merasa jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidup saya,” tutur Andy.

2. Adam Malik

Adam Malik
Ternyata orang yg dikabarkan Agen CIA ini ternyata gak pernah ngenyam bangku skolah.

3. M. H. Ainun Najib

Emha  Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah, Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Selebihnya Beliau jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi).

4. Abdullah Gymnastiar

Abdullah Gymnastiar
kiayi yang kmarin2 ini santer dengan kasus poligaminya,ternyata sukses menjadi kiayi dan wirausahawan (pengusah besar) tanpa ijazah. walaupun sudah lulus, tapi dikabarkan sampai saat ini blm mengambil ijazahnya.

5. Ajip Rosidi

Ajip  Rosidi
dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah. “Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah”. Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.
Berikut Sejarah Pendidikan Beliau :
  • Sekolah Rakyat 6 tahun di Jatiwangi (1950)
  • Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953)
  • Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat)

6. Bob Sadino

Bob  Sadino
Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia dan tidak melanjutkan kuliah. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

7. Andrie Wongso

Andrie Wongso
Anak ke-2 dari 3 bersaudara ini terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang. Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar.

8. Purdi E Chandra

Purdi E Chandra
Sosok Purdi E. Chandra kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI) lantaran memiliki 181 cabang di 96 kota besar di Indonesia dengan 100 ribu siswa tiap tahun.
Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya.
Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita -cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis.
Kini kabarnya Purdi E. Chandra sekarang sudah ada lebih dari 500 cabang Primagama di seluruh indonesia.

9. Hendy Setiono

Hendy  Setiono
Hendy Setiono (kebab Baba Rafi) mengawali usaha tahun 2003 di Surabaya. Modalnya hanya Rp 10 juta atau sebuah gerobak burger. Kini bisnisnya berkembang pesat dengan menu makanan utama kebab serta santapan ala koboi (burger serta hotdog). Jumlah cabangnya setiap tahun terus bertambah. Terakhir, terdapat 140 outlet tersebar di 25 kota, antara lain Batam, Bali, Bandung, Banjarmasin, Malang, Gresik, Jember, Kediri, Lampung, Padang, Malang, Makasar, Medan, Pasuruan, Pekan Baru, Karawang, Surabaya, Sukabumi, Semarang, Sidoarjo, Tasikmalaya, Jogjakarta, dan Jakarta

10. Buya Hamka

Buya  Hamka
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

fr. http://kaskus-lover.blogspot.com
Sumber : http://www.abizmal.co.cc/2010/05/orang-orang-yang-sukses-tanpa-ijazah.html

Kamis, 02 September 2010

Foto Foto Keren yang Diambil dari Nasa…

citra satelit Afrika

Satellite picture of Africa! Gambar satelit dari Afrika!

Antigua

Antigua, in the Caribbean region Indonesia, di kawasan Karibia

Egyptian pyramids dari ruang

The Egyptian pyramids seen from space The pyramids Mesir mulai dari ruang

Dari Taman Nasional Namib-Naukluft

National Park of Namib-Naukluft, in the Namib Desert of Africa Dari Taman Nasional Namib-Naukluft, di Namib Desert dari Afrika

Venesia gambar

Venice, in Italy. Venesia, di Italia. A great picture! A great gambar!

Gambar satelit dari Bahama

Satellite picture of The Bahamas, north of the Caribbean Sea Gambar satelit dari Bahama, utara dari Laut Karibia

Hong Kong

The Hong Kong region. Hong Kong daerah. A great satellite image, with ports and boats! A great gambar satelit, dengan pelabuhan dan kapal!

Brussells di Belgia

Brussells, the capital of Belgium, seen from space! Brussells, ibu kota Belgia, mulai dari ruang!

Saint-Louis, di Missouri, Amerika Serikat

Part of Saint-Louis, in Missouri, USA. Bagian dari Saint-Louis, di Missouri, Amerika Serikat. Of course with it’s famous Gateway Arch Tentu saja ini terkenal dengan Gateway Arch

Gambar satelit dari Shanghai

Satellite image of Shanghai, with its tall building, in China. Gambar satelit dari Shanghai, dengan tinggi bangunan, di Cina.


fr. http://hanif-boedoet.blogspot.com

7 Masjid Paling Unik di Dunia

Halaman ini menyajikan informasi bangunan masjid yang masih mempertahankan seni dan arsitektur peradaban awal suku bangsa setempat di karenakan memiliki nilai dan sejarah peradaban, dan beberapa bangunan masjid yang akan dibangun pada saat sekarang dengan disain arsitektur peradaban warisan nenek moyang yang salah satu alasannya untuk mengagungkan dan memelihara nilai-nilai seni dan arsitektur peradaban asli suku bangsa, serta masjid yang telah dibangun dengan disain arsitektur moderen dengan melupakan sama sekali sejarah kejayaan peradaban dan seni arsitektur Islam pada masa-masa jayanya, dengan menerapkan konsep dengan pertimbangan serta alasan tertentu.


Seperti kita ketahui, bahwa banyak sekali arsitektur masjid yang masih mempertahankan arsitektur peradaban asli suku bangsa setempat di dunia ini, disebabkan bangunan tersebut telah ada dan dibangun pada zaman awal masuk dan berkembangnya agama Islam, sedangkan thread ini hanya akan menyajikan informasi 7 buah bangunan masjid saja yang dikategorikan sebagai “7 Simply Amazing Mosques” di dunia.



1. Masjid Agung Djenné, Afrika Barat



Masjid Agung Djenne, pada mulanya masjid ini dibangun sepenuhnya dengan bahan “ferey” atau bata dari bahan tanah yang dikeringkan dengan matahari dan diplaster dengan tanah lumpur, dengan ketebalan dinding antara 41 cm dan 61 cm. Masjid ini dibangun pada abad ke-13 dan direnovasi pada tahun 1834. Masjid yang terlihat pada gambar ini dibangun ulang kembali pada awal abad ke-20 dan selesai sekitar 1909. dengan bantuan dan dukungan Pemerintah Perancis dimana pada pada saat itu Djenné adalah negeri jajahan Perancis di Afrika Barat. Pemerintah Prancis telah memberi bantuan dan dukungan politik serta dana untuk pembangunan kembali Masjid Agung Djenné ini.



Satu-satunya bagian asli bangunan yang masih dipertahankan dari masjid ini adalah ruang dasar (kandang) yaitu tempat kuburan atau makam pemimpin-pemimpin lokal bangsa Djenné.

Masjid Agung ini berlokasi di tepi Sungai Bani Kumba, pada platform atau site yang telah ditinggikan dengan luas permukaan bidang 5625 m², sehingga terlindung dari banjir.

Setiap tahun, masjid Djenné mendapat perawatan atau perbaikan dalam rangka menyambut berbagai perayaan festival rakyat sebagai hiburan yang luarbiasa, serta menyenangkan bagi masyarakat Djenné.

Masjid Agung Djenné adalah salah satu “Situs Warisan Dunia” yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1988″, yang dapat dikunjungi setiap saat, tetapi tidak dibolehkan memasuki bangunan, kecuali anda Muslim. Masjid Agung ini telah ditutup untuk non-Muslim pada tahun 1996, akibat dari kerusuhan dan penembakkan salah seorang official fotografi majalah Vogue Prancis di dalam masjid.

2. Masjid Agung dari Xi’an, Cina



Masjid Agung Xi’an ini adalah masjid pertama di Cina pada masa dinasti Tang, disain masjid dipengaruhi oleh arsitektur bangunan dan rumah ibadah yang lazim pada masa itu, masjid ini dibangun selama 742CE (kekuasaan Kaisar Xuanzong, 685-762).

Kemudian Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming merenovasi kembali masjid, yang samasekali tidak pernah menambahkan kubah atau dome dan menara, atau sama sekali tidak merobah arsitektur asli masjid.

Fitur yang penting dalam arsitektur ini adalah penekanan pada “simetris yang kontras” dengan taman di sekitar bangunan

Masjid ini merupakan salah satu contoh dari Sino-arsitektur Islam. di Cina, khususnya masjid yang berada di dekat Drum Tower (Gu Lou) di Huajue Lane dari Xi’an (Sian), provinsi Shaanxi, Cina, dan merupakan salah satu masjid yang paling tua dan paling terkenal di negeri ini.

Masjid ini awalnya merupakan pusat keagamaan (Islam) bagi pedagang Arab dan Persia yang beroperasi di Cina.serta pusat kegiatan hubungan dagang dengan pemerintahan dinasti Tang, Disinilah rute perdagangan Xi’an terhubung ke Timur Tengah dan Eropa, dan China untuk membuka diri dengan dunia Barat.

Pada 754 AD hasil sensus menunjukkan bahwa ada lima ribu orang asing yang tinggal di kota ini yang terdiri dari bangsa Turki, Iran, India, serta bangsa Jepang, Korea dan bangsa berbudaya Melayu dari timur.

Untuk mengetahui dan mempelajari lebih lanjut arsitektur masjid ini, silahkan kunjungi website (atau klik disini).Website ini berisi banyak gambar dan penjelasan rinci dari Masjid Agung Xi’an, serta beberapa sejarah tentang daerah tersebut.


3. Mesjid Agung Samarra, Irak



Masjid Agung di Samarra, Irak ini dibangun pada abad 9, yaitu 848CE, selesai dalam 52 tahun pada masa pemerintahan khalifah Abbasid Al-Mutawakkil (di Samarra) dari 847 sampai 861.

Pada zamannya, masjid ini adalah masjid terbesar di dunia, tinggi menara, yaitu menara yang terkenal disebut menara al-Malwiya adalah 52 meter dengan lebar dasar spiral menara 33 meter, dan dapat menampung delapan puluh ribu orang jemaah. Masjid didinding atau dibatasi dengan dinding batu bata yang mengelilingi sebuah kawasan yang berukuran panjang 240 meter, lebar 158 meter, dan tinggi 10 meter. Dinding ditutupi dengan panel berwarna biru gelap dengan kaca mosaic.

Menara masjid yang berbentuk spiral. Spiral menara masjid ini ini sangat terkenal, dan merupakan fitur-fitur pertama kali yang didaftarkan pada bangunan-bangunan bersejarah “Congregational Mosque” Al-Mutawakkil di Irak, kemudian diikuti oleh 20 bangunan istana lainnya. Hal ini membuktikan bahwa pemimpin atau khalifah di Irak pada masa itu sangat menghargai perkembangan dan kemajuan karya seni arsitektur.

Sayangnya, pada 1 April 2005, bagian atas Malwiya mesjid rusak oleh sebuah bom. dalam peperangan infasi AS ke negara Irak.(seperti gambar puing masjid, disamping) Para pejabat Irak telah menyatakan klaim bahwa tentara AS telah menyebabkan kerusakan yang signifikan pada situs-situs bersejarah di Samarra, termasuk dinding sebuah istana kuno di Irak.

4. Masjid Jami-Ul-Alfar, Kolombo, Sri Lanka





Masjid Jami-Ul-Alfar, adalah salah satu masjid tertua di kota Kolombo dan merupakan ikon pariwisata di ibu kota Srilangka

Ciri khas disain arsitektur Masjid ini adalah ornamen atau dekoratif dinding belang merah dan putih.


Masjid ini berlokasi di perempatan jalan di daerah Pettah Bazaar, dibangun tahun 1909 dengan arsiteknya bernama Saibo Lebbe yang merancang bangunan ini selama satu tahun pada tahun 1908.


Beberapa orang telah mengakui bahwa masjid Jami Ul Alfar adalah salah satu “land mark” atau ikon pawisata kota Kolombo


Selain di kota Kolombo Sri Lanka, arsitektur masjid semacam ini juga terdapat di kota Kualalumpur Malaysia yang bernama Masjid Jamek


5. Masjid Dublin, Irlandia







Masjid Dublin Irlandia ini, merupakan salah satu masjid yang mencerminkan budaya daerah, karena pada semulanya tidak dirancang untuk bangunan masjid. Tetepi dirancang dan dibangun untuk rumah tempat tinggal, kemudian beralih fungsi menjadi masjid sebagai tempat ibadah.

Masjid ini, dibuka pada tahun 1983, oleh sekelompok mahasiswa Islam yang tiba di Dublin pada awal tahun 1950-an dalam rangka belajar di daerah ini. Mereka merupakan Perkumpulan Masyarakat Islam yang pertama pada tahun 1959 di Dublin, dan satu dekade kemudian masyarakat ini mulai menggalang dana untuk membeli sebuah bangunan yang akan dijadikan masjid.


Mereka pertama kali membeli sebuah rumah di Harrington Street, dan kemudian jumlah pendatang Islam bertambah juga maka mereka terpaksa mencari bangunan baru.


Pada tahun 1983 mereka membeli sebuah bangunan, bangunan yang sekarang ini dulunya adalah sebuah rumah di South Circular Road, Dublin 8, yang kemudian difungsikan menjadi masjid serta sebagai pusat “The Islam Foundation” di Irlandia. Saat ini jumlah umat Islam di Irlandia berjumlah lebih kurang 1300 orang.








6. Masjid Assyafaah Singapore






Masjid Assyafaah, Singapura adalah masjid yang dibangun dengan disain arsitektur moderen (The Modern Masjid), masjid ini sekaligus merupakan basis atau kantor Dewan Agama Islam Singapura yaitu Majlis Ulama Islam Singapura (MUIS) yang didisain oleh “Forum Architects Singapura”, sama sekali masjid ini tanpa kubah atau dome.

Masjid ini terletak di sebelah utara pulau Singapura di lingkungan yang penuh dengan bangunan tinggi, Arsitek Tan Kok Hiang dengan konsern mendisain masjid ini dengan konsep “keharmonisan dan toleransi” dalam keberagaman kehidupan sosial berbagai suku bangsa, sehingga diaktualisasikanlah fisik bangunan masjid tanpa memihak kepada arsitektur peradaban salah satu suku bangsa atau etnis manapun.dan bahkan juga pada paradaban agama manapun. Tapi sudahbarang tentu bangunan ini harus mempunyai ciri atau tanda bahwa bangunan tersebut sesungguhnya adalah masjid.


Masjid Assyafaah dibuka pada tahun 2004 dan ini masjid ke lima dibangun pada fase III, program “The Mosque Building Fund” masyarakat muslim Singapura Utara. Masjid dibangun dengan memakai konstruksi kerangka baja dilapisi anti karat serta penutup “colorless polyurethane”. Masjid ini juga sebagai pengganti dua buah masjid tua yang ditutup di daerah Sembawang yang dapat menampung jemaah sebanyak 4000 orang.


7. “Mahligai Minang” Masjid Raya Minangkabau





Pemerintah Propinsi Sumatera Barat ingin mewujudkan land mark selain yang ada di Sumbar yaitu Jam Gadang di Kota Bukittinggi, maka dalam satu-dua tahun ke depan akan ada land mark baru bernama “Mahligai Minang”. Ini adalah hasil karya arsitektur pemenang sayembara yang diikuti 323 arsitek dari sejumlah negara.


Mahligai Minang tidak semata-mata sebuah masjid, tetapi sebuah identitas yang akan menjadi pusat peradaban, di mana salah satu bangunan utamanya adalah bangunan masjid. Di situlah perpaduan antara Islam dan Minangkabau, dengan melengkapi bangunan atau ruangan antara lain; ruangan atau bangungunan lembaga pendidikan seperti perpustakaan, tempat rekreasi keluarga sakinah, ruang serba guna yang menampung 3.000 orang yang bisa digunakan untuk seminar, pertunjukan kesenian, dan sebagainya.


Masyarakat Minangkabau yang sebagian besar adalah penduduk wilayah Propinsi Sumatera Barat dalam menjalankan kehidupan sosial budayanya tetap berpegang teguh pada adagium adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK). Oleh karena itu sejak dulu sampai sekarang, masjid sebagai representasi kehidupan merupakan salah satu ikon budaya yang penting.





Masjid tidak saja dapat dijadikan ukuran dari keberhasilan masyarakat suatu wilayah/nagari, tetapi sekali gus menjadi sebuah kebanggaan masyarakat di nagari tersebut. Itulah sebabnya sampai sekarang, setiap orang Minangkabau baik yang di kampung maupun yang di rantau selalu bergairah dan berlomba-lomba membangun dan memakmurkan masjid. Dengan demikian, masjid menjadi sentra kegiatan sosial kemasyarakatan. Di dalam adatnya disebutkan, sebagai salah satu syarat bagi sebuah nagari antara lain adalah babalai bamusajik. Adanya balai tempat bermusyawarah ninik mamak dan adanya masjid untuk aktivitas keagamaan dan ilmu pengetahuan.


Masjid merupakan bangunan utama Mahligai Minang mengambil dan mengaktulisasikan kembali seni dan arsitektur bangunan “Minangkabau pada masa peradaban kebudayaan awal”.


Seperti diketahui dalam sejarah Kerajaan Pagaruyung bahwa ada tiga fase atau gelombang peradaban kebudyaan yaitu :


1). Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung yang menganut agama Hindu Budha.

2) Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung yang menganut agama Islam. dan

3) Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung atau Minangkabau saat ini.


fr. http://yasirmaster.blogspot.com

Rabu, 01 September 2010

Sekilas Tentang Islam di Belgia

Rata Penuh


Menurut sensus tahun 1989 jumlah kaum muslimin Belgia mencapai 235 ribu jiwa. Dan tahun 2002 didapatkan data bahwa jumlah kaum muslimin Belgia telah berjumlah 300 ribu jiwa. Kaum muslimin Belgia umumnya tinggal di kota-kota besar seperti Brussell, Leuven dan Charleroi. Mayoritas kaum muslimin Belgia adalah kaum imigran dari beberapa negara Islam dan Arab seperti Maroko, Aljazair, Tunisia, Turki, Mesir, Palestina dan Indonesia. Menurut hasil penelitian setiap seribu warga muslim terdapat tiga atau empat muslim asli Belgia. Diperkirakan kaum muslimin datang ke Belgia setelah perang dunia II.

Hampir 90% muslimin Belgia sebagai pekerja imigran (asing). Hanya 5% yang berstatus sebagai mahasiswa. Selebihnya, 60% rata-rata usia mereka berkisar 25 tahun kebawah. Kondisi ekonomi mereka cukup baik, jika dibanding dengan saudara mereka di negeri asalnya. Pendapatan mereka rata-rata per bulan antara 1300 sampai dengan 1600 dollar US. Jumlah pendapatan itu belum termasuk tunjangan keluarga, tunjangan pensiun dan lain-lainnya. Fenomena pengangguran di negeri itu sering dijadikan alasan kelompok rasialis untuk memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Pada tanggal 24 April 1984, pihak Kerajaan mengeluarkan suatu keputusan yang mengakui Islam sebagai salah satu daritiga agama resmi di Belgia. Dari surat keputusan tersebut warga muslim Belgia mendapatkan beberapa hal positf, di antaranya adalah menjadikan pengajaran agama Islam sebagai satu bidang studi resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah milik pemerintah Belgia, pihak pemerintah berkewajiban menyiapkan dana dan tenaga pengajar agama Islam pada setiap sekolah yang ada pelajar muslimnya, kaum muslimin diperbolehkan membangun tempat peribadatan berupa Masjid, mushalla atau Islamic Centre, kaum muslimin diperbolehkan mencantumkan identitas agamanya pada kartu tanda penduduk, pasport dan surat resmi lainnya.

Dalam hal mendirikan masjid, mushalla ataupun Islamic Centre, muslim Belgia nampaknya tidak memiliki kesulitan baik dalam hal penyediaan dana ataupun izin dari pemerintah. Dalam hal penyediaan dana muslim di sana tidak memiliki kesulitan karena umumnya mereka berada pada tingkatan ekonomi menengah sampai atas. Dalam hal pemberian izin mereka pun tidak memiliki masalah karena sesuai dengan surat keputusan tadi, umat muslim boleh mendirikan tempat ibadah mereka di negara tersebut.

Untuk pertama kalinya, Raja Belgia Albert II tidak menggunakan kata 'imigran' saat merujuk umat Muslim setempat. Hal itu dia sampaikan saat membacakan Dekrit Kerajaan bagi pembentukan Majelis Eksekutif Dewan Muslim Belgia sekitar tahun 1999 lalu. Pengukuhan ini sekaligus mengakhiri kontroversi dan masalah yang melingkupi proses pemilihan anggota dewan tersebut sejak tahun 1998 lalu. Dengan demikian, Belgia menjadi negara Eropa pertama yang mendirikan majelis eksekutif Islam. Majelis itu nantinya berperan memberikan nasihat kepada Raja Belgia mengenai isu-isu berkaitan masyarakat Islam. Islam telah dikenal luas sejak tahun 1974, namun baru tahun belakangan umat Muslim memiliki wakil di Dewan Negara. Sebanyak 45 ribu Muslim Belgia dari keseluruhan sekitar 70 ribu memberikan suaranya bagi pemilihan 68 anggota Dewan Muslim Belgia yang pertama serta 17 orang anggota eksekutifnya. Agenda utama dewan Islam adalah menentang diskriminasi terhadap Muslim, terutama di sekolah-sekolah dan tempat kerja. Contoh kasus, hampir setengah dari populasi Muslim asal Maroko (225 jiwa) di negara tersebut, tidak pernah menikmati haknya sebagai warga negara yang sah.

Hal ini menyebabkan rata-rata umat Muslim memiliki masalah dalam menjalankan aktivitas ibadahnya secara bebas. "Kepala sekolah di kota Brussel tidak mengizinkan murid perempuan Muslim mengenakan jilbab. Ini sama saja mengingkari hak pendidikan sebanyak 180 siswi Muslim di sana," papar Muhammad Bouliif, salah satu anggota eksekutif Dewan Muslim Belgia. Selain itu, Bouliif juga menyatakan pihaknya mengharapkan kepada pemerintah kerajaan untuk bisa membiayai operasional masjid dan memberikan gaji bulanan terhadap imam-imam masjid, seperti halnya telah dilakukan kepada gereja dan sinagog. Hingga saat ini, tercatat populasi Muslim di Belgia sekitar 450 ribu jiwa, termasuk di antaranya 120 ribu imigran asal Turki, 30 ribu Albania, dan selebihnya dari Palestina, Aljazair, Tunisia, dan Bosnia. Terdapat sebanyak 300 bangunan masjid di Belgia, dan yang tertua adalah masjid Islamic Center di ibu kota Brussels dibangun pada tahun 1968.

Pada bagian lain, Presiden Majelis Eksekutif Islam Belgia, Nordin Maloujahmoum, menegaskan bahwa komunitas Muslim Belgia harus aktif bekerja sama dalam upaya pembangunan negara. Nordin, 36 tahun, menyatakan masyarakat Islam minoritas di sebuah negara majemuk perlu berpikiran global karena mereka merupakan bagian dari masyarakat antarbangsa. "Dan Muslim Belgia saat ini juga tengah berjuang mencari identitas mereka sendiri." Menurutnya, perpaduan hanya bisa dicapai jika mereka semua bersatu padu sebagai masyarakat Islam Belgia. "Generasi kedua dan ketiga Muslim Belgia lebih berpendidikan tinggi dan keislaman mereka juga tidak sama dengan keislaman orang tuanya," kata Nordin, yang kini bertugas sebagai pegawai di Kementerian Keuangan Belgia. Selanjutnya dia menerangkan bahwa perpaduan Islam dua generasi itu lebih utuh karena tidak dibayangi oleh kebudayaan bangsa masing-masing. Sebagai contoh, kebudayaan orang Maghribi dan Turki banyak mempengaruhi amalan-amalan Islam generasi pertama warga Islam Belgia.

Namun, generasi kedua dan ketiga kini telah jauh dari tradisi tersebut. Mereka kini kelihatan lebih sebagai warga Belgia kebanyakan. Dengan demikian, tercipta identitas tersendiri, yaitu sebagai warga Islam Belgia. "Kebudayaan mereka tidak lagi membayangi amalan Islam mereka," kata ayah dua anak itu. Dia pun berpendapat, akan menjadi satu perkembangan yang baik sekiranya identitas sebuah masyarakat Islam dapat dihidupkan selaras dengan identitas mereka sebagai warga negara. Belgia adalah salah satu negara kerajaan di Eropa Barat. Di sebelah utara berbatasan dengan Belanda, dan di timur berbatasan dengan Jerman dan Luksemburg, sedang di selatan berbatasan dengan Prancis. Luas wilayahnya 20.507 kilometer persegi. Jumlah penduduk mencapai 10.268.000 jiwa. Beribu kota di Brussels, Belgia merupakan negara terkecil di Eropa. Kaum Muslim Belgia umumnya tinggal di kota-kota besar, seperti Brussell, Charleroi, dan lain-lain. Mayoritas kaum Muslim Belgia adalah imigran dari beberapa negara Islam dan Arab. Menurut hasil penelitian, setiap seribu warga Muslim terdapat tiga atau empat Muslim asli Belgia.

Diperkirakan kaum Muslim pertama datang ke Belgia setelah Perang Dunia II. Hampir 90 persen Muslim Belgia sebagai pekerja imigran (asing). Hanya 5 persen yang berstatus sebagai mahasiswa. Selebihnya, 60 persen rata-rata usia mereka berkisar 25 tahun ke bawah. Kondisi ekonomi mereka cukup baik, jika dibanding dengan di negeri asal. Pendapatan rata-rata per bulan antara 1300 hingga 1600 dolar (sekitar 12 juta rupiah). Jumlah pendapatan itu belum termasuk tunjangan keluarga, tunjangan pensiun, dan lain-lainnya. Fenomena pengangguran di sebagian kalangan kaum muda di negeri itu, sering dijadikan alasan kelompok rasialis untuk memusuhi Islam dan kaum Muslim. Islam diakui secara resmi tanggal 24 April 1984 ketika pihak Kerajaan mengeluarkan keputusan yang mengakui Islam sebagai salah satu dari tiga agama resmi di Belgia. Dari surat keputusan tersebut warga Muslim Belgia mendapatkan beberapa hal positif. Di antaranya, Islam sebagai salah satu bidang studi resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah milik Pemerintah Belgia.

Pihak pemerintah berkewajiban menyiapkan dana dan tenaga pengajar Agama Islam pada setiap sekolah yang ada pelajar Muslimnya. Umat Muslim juga diperbolehkan membangun tempat peribadatan berupa masjid, mushala, atau Islamic Centre. Jumlah masjid dan Islamic Centre yang bertebaran di berbagai kota di Belgia sekitar 300 buah (di kota Broxelle saja terdapat 40 buah masjid, mushala, dan Islamic Centre). Kaum Muslimah pun diperbolehkan menggunakan foto berjilbab pada kartu tanda penduduk, paspor, dan surat-surat resmi lainnya. Secara umum, tantangan yang dihadapi komunitas Muslim Belgia yaitu adanya kebijakan politik rasial. Ini merupakan tantangan besar bagi kaum Muslim Belgia.

Masalah jilbab, terlepas dari pengakuan resmi pihak kerajaan, masih menjadi masalah di kalangan siswi Muslimah. Sebab, masih sering mendapat perlakuan tidak adil di sekolah maupun tempat kuliah. Para orang tua dan wali murid sering kali mengajukan protes dan demonstrasi ke pihak sekolah dan universitas yang melakukan tindakan diskriminatif terhadap para siswi Muslimah. Kedua, jumlah sekolah milik pemerintah yang mengajarkan bidang studi agama Islam (menurut data tahun 1993) sebanyak 468 buah sekolah dengan jumlah tenaga pengajar sekitar 348 orang guru. Sedangkan jumlah siswanya mencapai 24.051 orang. Pada awalnya pihak Islamic Centre dan Yayasan Dakwah dipercaya untuk mendatangkan tenaga guru agama dari negara-negara Arab dan Islam. Khususnya mereka yang telah menyelesaikan studinya di S1 pada jurusan agama. Tapi, sekarang izin itu telah dicabut dan mengharuskan tenaga pengajar agama dari kaum Muslim warga Belgia atau mereka yang telah memiliki izin tinggal resmi (resident permit) dari kerajaan. Sementara kemampuan mereka dalam mengajaar agama Islam belum memadai. Di samping itu, minimnya pengetahuan agama yang dimiliki para Imam masjid serta sempitnya wawasan keislaman sebagian para dai, terutama yang menyangkut fikih realitas (Fiqhul Waaqi) berkaitan dengan konsep politik pembauran yang dicanangkan pihak Kerajaan, sering menimbulkan kesalahpahaman antara pihak penguasa dan komunitas Islam. Hal lain, yaitu tidak adanya organisasi resmi yang mewakili kaum Muslim di pemerintahan dan parlemen yang dapat menyuarakan hak mereka.

fr. http://islamicworldnews.blogspot.com

Taman Indonesia di Belgia Diresmikan, Pertama di Eropa



(Source Here)

Taman Indonesia di Belgia


Tahukah Anda bahwa salah satu negara asal wisatawan asing terbesar di Indonesia adalah dari Belgia? Ketertarikan warga Belgia terhadap Indonesia bahkan terlihat dengan dibangunnya Taman Indonesia di Brugelette, Belgia. Taman yang diberi nama "The Kingdom of Ganesha" ini adalah Taman Indonesia pertama di Eropa.

Di depan gerbang terdapat Rumah Toraja dan replika Candi Borobudur. Sementara di bagian belakang tampak rumah tradisional besar ala Nusa Tenggara Timur berderet melingkari ujung taman. Selain itu, terdapat pula Pura Bali yang bernama Puri Agung Shanti Buwana, yang ukurannya sama sebesar ukuran pura besar di Bali. Selain itu masih banyak yang lainnya. Hal ini seperti membuat miniatur ciri khas dan identitas Indonesia di Belgia. Suatu kehormatan besar mendapatkan apresiasi seperti ini bukan? Bangga!!
fr. http://akudanindonesia.blogspot.com


Brussel
- Sebuah taman Indonesia seluas 5 hektar diresmikan di Belgia. Taman yang diberi nama The Kingdom of Ganesha ini adalah sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia.

Taman berlokasi di Parc Paradisio, Brugelette, Belgia, itu telah dibuka dan diresmikan pada 20/5/2009 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik, didampingi Dubes RI Nadjib Riphat Kesoema, Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar dan Staf Ahli Khusus Menbudpar Harbunangin.

Dari pihak Belgia antara lain Menteri Ekonomi, Tenaga Kerja dan Warisan Budaya Wilayah Walonia, Jean Claude Marcourt dan CEO Parc Paradisio, Eric Domb.

Upacara pembukaan diwarnai upacara bernuansa Bali dengan penyucian Pura Agung Shanti Buwana, disaksikan sekitar 800 undangan yang memadati pelataran Taman Indonesia pertama di Eropa ini.

“Taman Indonesia di Belgia ini tidak hanya pintu dan jendela untuk mengenal Indonesia, tapi juga sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia di Eropa,” Menbudpar Jero Wacik dalam sambutannya.

Secara terpisah Dubes Nadjib menambahkan bahwa taman yang digagas CEO Eric Domb ini tidak hanya mendekatkan masyarakat Eropa kepada Indonesia, tapi lebih dari itu adalah sebuah pengakuan bagi Indonesia.

"Bahwa sesungguhnya Indonesia memiliki keunikan yang amat menarik bagi dunia, yang layak untuk terus menjadi perhatian bangsa lain,” demikian Nadjib.


Pembukaan Secara Resmi oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata dan CEO Parc Paradisio

Miniatur Indonesia

Kompleks besar taman Indonesia seluas 5 hektar ini memang langka, unik sekaligus istimewa, tidak hanya bagi masyarakat Eropa tapi bagi warga Indonesia di Eropa. Di taman ini ada Puri Agung Shanti Buwana, sebesar ukuran sesungguhnya di Bali, berdiri di atas sawah bertingkat ala sawah di Ubud.

Selain itu juga dilengkapi dengan replika besar candi Prambanan yang menjulang tinggi, serta bongkahan batu besar berderet ala Gunung Kawi di balik tembok candi.

Di depan gerbang tampak Rumah Toraja, replika candi Borobudur dan di bagian belakang tampak rumah tradisional Nusa Tenggara Timur, berderet melingkari ujung taman. Ini masih diperindah dengan beragam patung, akar pohon tua, dan batang kayu pohon besar, yang telah menjadi fosil dari daerah Banten.

"Dijadwalkan pada akhir bulan ini gajah dari Sumatera akan tiba untuk memperkaya taman Indonesia ini," tutur Korfungsi Pensosbud PLE Priatna kepada detikcom.

Didatangkan dari Jawa Bali

Taman ini terwujud berkat kecintaan CEO Parc Paradisio, Eric Domb kepada Indonesia. Memperingati 60 tahun dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Belgia, kerjasama KBRI Brussel dan Eric Domb ini membuahkan hasil-hasil istimewa.

Kompleks taman dibangun keseluruhannya oleh para seniman yang didatangkan khusus dari Bali dan para pekerja dari Bali dan Jawa Tengah. Sebanyak 22 orang bekerja membangun taman sejak akhir 2006 dan selesai dalam dua tahun.

Priatna menjelaskan bahwa untuk menjaga keaslian dan aroma magis keindonesiaan, batu-batu untuk membangun pura besar dan seluruh lapisan jalan setapak berasal dari Indonesia. Totalnya ada sekitar 320 kontainer batu-batu candi diimpor dari lereng gunung Merapi Jawa Tengah.

"Betapa seriusnya Parc Paradisio memperkenalkan budaya Indonesia di pusat Eropa ini," ujar Priatna.

Parc Paradisio adalah sebuah taman konservasi flora dan fauna, yang dibangun sejak 2000 di tengah sisa bangunan chateau (kastil tua), dengan koleksi sekitar 1500 spesies tanaman dan 3500 spesies binatang.

"Taman ini tidak hanya menjadi pusat rekreasi yang menawarkan keakraban alam, manusia, dan kebudayaan, tetapi juga konservasi berkonsep moderen, yang mengibarkan promosi permanen bagi pariwisata, ekonomi dan investasi Indonesia di jantung Uni Eropa ini," demikian Priatna.

fr. http://beritabaikdariindonesia.blogspot.com