Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 September 2010

Taman Indonesia di Belgia Diresmikan, Pertama di Eropa



(Source Here)

Taman Indonesia di Belgia


Tahukah Anda bahwa salah satu negara asal wisatawan asing terbesar di Indonesia adalah dari Belgia? Ketertarikan warga Belgia terhadap Indonesia bahkan terlihat dengan dibangunnya Taman Indonesia di Brugelette, Belgia. Taman yang diberi nama "The Kingdom of Ganesha" ini adalah Taman Indonesia pertama di Eropa.

Di depan gerbang terdapat Rumah Toraja dan replika Candi Borobudur. Sementara di bagian belakang tampak rumah tradisional besar ala Nusa Tenggara Timur berderet melingkari ujung taman. Selain itu, terdapat pula Pura Bali yang bernama Puri Agung Shanti Buwana, yang ukurannya sama sebesar ukuran pura besar di Bali. Selain itu masih banyak yang lainnya. Hal ini seperti membuat miniatur ciri khas dan identitas Indonesia di Belgia. Suatu kehormatan besar mendapatkan apresiasi seperti ini bukan? Bangga!!
fr. http://akudanindonesia.blogspot.com


Brussel
- Sebuah taman Indonesia seluas 5 hektar diresmikan di Belgia. Taman yang diberi nama The Kingdom of Ganesha ini adalah sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia.

Taman berlokasi di Parc Paradisio, Brugelette, Belgia, itu telah dibuka dan diresmikan pada 20/5/2009 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik, didampingi Dubes RI Nadjib Riphat Kesoema, Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar dan Staf Ahli Khusus Menbudpar Harbunangin.

Dari pihak Belgia antara lain Menteri Ekonomi, Tenaga Kerja dan Warisan Budaya Wilayah Walonia, Jean Claude Marcourt dan CEO Parc Paradisio, Eric Domb.

Upacara pembukaan diwarnai upacara bernuansa Bali dengan penyucian Pura Agung Shanti Buwana, disaksikan sekitar 800 undangan yang memadati pelataran Taman Indonesia pertama di Eropa ini.

“Taman Indonesia di Belgia ini tidak hanya pintu dan jendela untuk mengenal Indonesia, tapi juga sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia di Eropa,” Menbudpar Jero Wacik dalam sambutannya.

Secara terpisah Dubes Nadjib menambahkan bahwa taman yang digagas CEO Eric Domb ini tidak hanya mendekatkan masyarakat Eropa kepada Indonesia, tapi lebih dari itu adalah sebuah pengakuan bagi Indonesia.

"Bahwa sesungguhnya Indonesia memiliki keunikan yang amat menarik bagi dunia, yang layak untuk terus menjadi perhatian bangsa lain,” demikian Nadjib.


Pembukaan Secara Resmi oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata dan CEO Parc Paradisio

Miniatur Indonesia

Kompleks besar taman Indonesia seluas 5 hektar ini memang langka, unik sekaligus istimewa, tidak hanya bagi masyarakat Eropa tapi bagi warga Indonesia di Eropa. Di taman ini ada Puri Agung Shanti Buwana, sebesar ukuran sesungguhnya di Bali, berdiri di atas sawah bertingkat ala sawah di Ubud.

Selain itu juga dilengkapi dengan replika besar candi Prambanan yang menjulang tinggi, serta bongkahan batu besar berderet ala Gunung Kawi di balik tembok candi.

Di depan gerbang tampak Rumah Toraja, replika candi Borobudur dan di bagian belakang tampak rumah tradisional Nusa Tenggara Timur, berderet melingkari ujung taman. Ini masih diperindah dengan beragam patung, akar pohon tua, dan batang kayu pohon besar, yang telah menjadi fosil dari daerah Banten.

"Dijadwalkan pada akhir bulan ini gajah dari Sumatera akan tiba untuk memperkaya taman Indonesia ini," tutur Korfungsi Pensosbud PLE Priatna kepada detikcom.

Didatangkan dari Jawa Bali

Taman ini terwujud berkat kecintaan CEO Parc Paradisio, Eric Domb kepada Indonesia. Memperingati 60 tahun dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Belgia, kerjasama KBRI Brussel dan Eric Domb ini membuahkan hasil-hasil istimewa.

Kompleks taman dibangun keseluruhannya oleh para seniman yang didatangkan khusus dari Bali dan para pekerja dari Bali dan Jawa Tengah. Sebanyak 22 orang bekerja membangun taman sejak akhir 2006 dan selesai dalam dua tahun.

Priatna menjelaskan bahwa untuk menjaga keaslian dan aroma magis keindonesiaan, batu-batu untuk membangun pura besar dan seluruh lapisan jalan setapak berasal dari Indonesia. Totalnya ada sekitar 320 kontainer batu-batu candi diimpor dari lereng gunung Merapi Jawa Tengah.

"Betapa seriusnya Parc Paradisio memperkenalkan budaya Indonesia di pusat Eropa ini," ujar Priatna.

Parc Paradisio adalah sebuah taman konservasi flora dan fauna, yang dibangun sejak 2000 di tengah sisa bangunan chateau (kastil tua), dengan koleksi sekitar 1500 spesies tanaman dan 3500 spesies binatang.

"Taman ini tidak hanya menjadi pusat rekreasi yang menawarkan keakraban alam, manusia, dan kebudayaan, tetapi juga konservasi berkonsep moderen, yang mengibarkan promosi permanen bagi pariwisata, ekonomi dan investasi Indonesia di jantung Uni Eropa ini," demikian Priatna.

fr. http://beritabaikdariindonesia.blogspot.com


Jumat, 30 Juli 2010

Depbudpar Bangun 200 Desa Wisata 2010

Depbudpar Bangun 200 Desa Wisata 2010
Desa Wisata (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) telah menyeleksi 200 desa di seluruh Indonesia untuk dibangun menjadi desa wisata pada 2010.

"Tahun 2010 kita menargetkan pembangunan 200 desa wisata," kata Sekretaris Ditjen Pengembangan Destinasi Depbudpar Winarno Sudjas di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, 200 desa tersebut diseleksi melalui usulan yang diterima Depbudpar dari para kepala daerah pengusul dari seluruh provinsi di tanah air.

Masing-masing desa akan diberikan subsidi dana sebesar Rp100 juta melalui Program PNPM Mandiri pariwisata yang dikoordinasikan di bawah Menko Kesra.

"Bentuk desa wisata akan disesuaikan dengan permintaan dan potensi dari desa terkait," katanya.

Program Desa Wisata dinilainya efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan karakter wisata desa yang bersangkutan.

"Misalnya saja, tahun lalu kami kembangkan proyek percontohan di sebuah desa di Yogyakarta. Di desa itu dibangun kios-kios pendukung sektor pariwisata," katanya.

Pengembangan desa wisata juga menjadi salah satu program 100 hari Depbudpar yang menjadi kontrak kinerja Menbudpar dengan Presiden RI.

Tahun lalu, Depbudpar juga telah menyeleksi usulan dari Pemda dan menetapkan sebanyak 104 desa sebagai wilayah yang dikembangkan sebagai desa wisata melalui PNPM Mandiri.

Pihaknya juga akan menggandeng instansi terkait yakni Menko Kesra dan Pemda Kabupaten/Kotamadya terkait untuk merealisasikan target itu.

Desa wisata dinilai sangat potensial untuk dikembangkan saat ini mengingat pada tahun-tahun terakhir agrotourism dan ekowisata sangat diminati wisatawan.

Ia berharap dengan dikembangkannya desa wisata target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan nusantara (wisnus) akan tercapai.

Tahun ini pihaknya menargetkan kunjungan wisman sebanyak 6,5 juta dan wisnus sekitar 227 juta pergerakan hingga tutup tahun 2010.

Kamis, 29 Juli 2010

Tujuh Desa Wisata Dikembangkan di Bali





sawah

Sawah di Kabupaten Badung, Bali.

Kuta - Sebanyak tujuh Desa di Kabupaten Badung, Bali akan dikembangkan sebagai Desa Wisata. Pemerintah Kabupaten Badung menetapkan tujuh desa wisata sebagai upaya untuk mengembangkan pariwisata pedesaan.

"Penetapan itu dimaksudkan untuk mendorong keseimbangan pembangunan antara wilayah Badung Selatan dan Badung Utara," kata Bupati Badung AA Gde Agung saat menggelar jumpa pers di Kuta, Senin (28/12).

Ketujuh Desa tersebut, adalah Desa Kiadan, Kecamatan petang, Desa Sangeh, Desa Bongkasa yang berada di Kecamatan Abiansemal, Desa Baha, Desa Mengwi, Desa Kapal dan Desa Munggu yang masing-masing berada di Kecamatan Mengwi.

"Wilayah-wilayah pedesaan di Kabupaten Badung memiliki potensi yang memadai untuk dikembangkan," katanya.

Di samping bertujuan untuk mendorong keseimbangan pembangunan, pengembangan desa wisata juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru di wilayah pedesaan sehingga dapat menanggulangi kemiskinan, katanya.

Dikatakan, pengembangan pariwisata pedesaan tidak bertujuan untuk mengubah wajah desa, melainkan mengemas kondisi `eksisting` di pedesaan agar memiliki daya tarik wisata yang khas Kabupaten Badung.

"Pariwisata pedesaan merupakan salah satu upaya menghasilkan produk-produk pariwisata yang baru, dengan tidak bertujuan mengubah penataan ruang desa," tambahnya.

Menurutnya, pariwisata desa tidak akan mengarah pada penambahan jumlah sarana akomodasi berbintang di Kabupaten Badung, melainkan sebagai alternatif dari sarana yang sudah ada.

Dengan demikian, apabila nantinya muncul kebutuhan terhadap keberadaan sarana akomodasi pada desa-desa wisata, pihaknya akan mengarahkan untuk memanfaatkan perumahan penduduk sebagai sarana akomodasi.

Sementara untuk pengembangan desa sebagai "pilot project" program Desa Wisata di Kabupaten Badung dalam penataan nantinya diperkirakan akan menemui sejumlah kendala dan hambatan.

"Hambatan tersebut, antara lain dapat menyangkut masalah manajemen, hambatan prilaku dan budaya wisata masyarakat yang belum memadai," ucapnya.

Namun, Gde Agung optimistis tantangan tersebut dapat teratasi melalui serangkaian pelatihan-pelatihan kepariwisataan yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan.(ant/waa)