Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Indah Pada Waktunya


















Terkadang kita meminta pada Tuhan setangkai bunga yang indah,
akan tetapi Tuhan memberikan kaktus yang berduri

Di saat lain kita meminta kepada Tuhan kupu-kupu,
akan tetapi Tuhan memberikan seekor ulat

Kita menjadi sedih,
kecewa,
bahkan “MARAH”

Namun kemudian kaktus itu berbunga indah sekali,
dan ulat itupun menjadi kupu-kupu yang cantik

Itulah jalan Tuhan
“Indah pada waktunya-Nya”

Tuhan tidak memberikan apa yang kita “harap”kan
tapi Tuhan berikan apa yang kita butuhkan

Kadang kita sedih,
kecewa,
terluka,
berburuk sangka,
tapi ternyata jauh di atas segalanya

Tuhan sedang merangkai yang terbaik
dalam kehidupan kita
agar kita belajar untuk
Ikhlas dan Sabar

Semoga hari ini lebih baik dari pada hari kemarin
karena seandainya hari ini sama saja dengan hari kemarin
kita termasuk orang yang sudah merugi.


Ketika Tuhan Menciptakan Wanita













Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
Mengapa begitu lama menciptakan wanita, Tuhan?


Tuhan menjawab,
Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?” Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan“.

Malaikat menjawab dan takjub,
Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!

Tuhan menjawab,
Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari“.

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?

Tuhan menjawab,
Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata.
Untuk apa?“, tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan,
Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.

“Cintanya tanpa syarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, Dia SERING LUPA betapa BERHARGANYA DIA....”

(NN)


Wanita.....Tercipta Dikau Dari Tulang Rusuk Lelaki


"Tercipta di kau dari rusuk lelaki....."
hakikatnya wanita di lahirkan dari tulang yang bengkok.

Seorang laki-laki jika dia kesakitan,
maka dia akan membenci.
Sebaliknya wanita, saat dia kesakitan,
maka semakin bertambah sayang dan cintanya.
Seandainya Hawa diciptakan dari Adam AS saat Adam terjaga,
pastilah Adam akan merasakan sakit keluarnya Hawa dari sulbinya,
hingga dia membenci Hawa.

Akan tetapi Hawa diciptakan dari Adam saat dia tertidur,
agar Adam tidak merasakan sakit dan tidak membenci Hawa.
Sementara seorang wanita akan melahirkan dalam keadaan terjaga,
melihat kematian dihadapannya,
namun semakin sayang dan cinta nya kepada anak yang dilahirkan
bahkan ia akan menebus nya dengan kehidupannya.

Sesungguhnya Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk yang bengkok
yang tugasnya adalah melindungi Qalbu(jantung, hati nurani).
Oleh karena itu, tugas Hawa adalah menjaga qalbu.
Kemudian Allah menjadikan nya bengkok untuk melindungi qalbu dari sisi yang kedua.

Sementara Adam diciptakan dari tanah,
dia akan menjadi petani, tukang batu, tukang besi, dan tukang kayu.
Wanita selalu berinteraksi dengan perasaan, dengan hati,
dan wanita akan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang,
seorang saudari yang penyayang,
seorang puteri yang manja,
dan seorang isteri yang penurut.

Dan wajib bagi Adam untuk tidak berusaha meluruskan tulang yang bengkok tersebut,
seperti yang dikhabarkan oleh Nabi Muhammad SAW,
“jika seorang lelaki meluruskan yang bengkok tersebut dengan serta merta, maka dia akan mematahkannya.”
Maksudnya dengan kebengkokan tersebut adalah perasaan yang ada pada diri seorang wanita
yang mengalahkan perasaan seorang laki-laki.





Maka wahai Adam janganlah merendahkan perasaan Hawa,
dia memang diciptakan seperti itu.
Apabila seseorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,
tetapi dia tidak menitikkan airmata,
itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.

Apabila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,
lebih baik beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu meminta maaf.
Dan wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci untuk orang yang paling dia sayang.


di petik dari MUSLIM 24 JAM TM. Buat renungan kita bersama.


Selasa, 09 Agustus 2011

Proposal Nikah










Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati,

saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat.

Maha Benar Allah yang telah berfirman : “Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu”.
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na’udzubillah !

Dan Allah telah berfirman : “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor” (Qs. Al Israa’ : 32).

Ibunda dan Ayahanda tercinta..(Keep Reading…)
melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. “Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu,” ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a’lam.
Ibunda dan Ayahanda tersayang..
bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah..
Ibunda dan Ayahanda..
inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.

Dasar Pemikiran

Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :
  1. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).
  2. “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
  3. ¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
  4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
  5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
  6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
  7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
  8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
  9. …Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa’ (4) : 3).
  10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
  11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
  12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
  13. Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.” (HR. Baihaqi).
  14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
  15. “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.”
  16. “Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
  17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
  18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
  19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
  20. Rasulullah SAW. bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).
  21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).
  22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
  23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan
1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)

Kesiapan Pribadi
  • Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ¡§Man Jadda Wa Jadda¡¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
  • Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
  • Termasuk tathhir (mensucikan diri).
  • Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
  • Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
  • Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
  • Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
  • Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
  • Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
Rasulullah SAW. bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad)
dan
“Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na’udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
  • Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
  • Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu’an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
  • Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
  • Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.

Memperbaiki Niat :
Innamal a’malu binniyat……. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.

Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.”(HR. Thabrani).
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama”. (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda,
“Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Niat dalam Proses Pernikahan

Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya’. “Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : “Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo’akan pengantin dengan do’a : Barokallahu laka wa baroka ‘alaikum wa jama’a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan (“Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama” – Qs. Al Ahzab (33),


Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)

Penutup

“Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan “Jazakumullah Khairan katsiira”. “Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin”

fr. http://fitrimelinda.wordpress.com
(Sumber: Note FB Ahmad Zaki)

Jumat, 05 Agustus 2011

UJE: Bertobat Total Setelah Allah Menayangkan Semua Perbuatan Maksiatnya di Mekkah

Tidak akan ada yang menyangka kalau Ustadz Jefri Al-Buchori di masa mudanya adalah seorang junky atau pemakai obat-obatan terlarang. Mungkin juga, tak banyak orang yang menduga bahwa penceramah tampan ini dulunya kerap melakukan perbuatan maksiat. Tapi kini Jefri adalah seorang ustadz yang getol memberikan dakwah. Bagaimana sebetulnya perjalanan seorang Ustadz Jefri hingga mendapatkan titik balik dalam hidupnya untuk bertobat total dari semua perbuatan maksiatnya di masa lalu, termasuk meninggalkan Narkoba?

Sabtu (24/3) siang lalu, cuaca Jakarta terasa panas. Hal ini wajar, sebab musim kemarau telah menjelang. Meski cuaca terasa panas, ketika Realita hendak bertemu Uje, panggilan akrab Ustadz Jefri di daerah Cibubur, cuaca justru lebih sejuk. Terlebih lagi, setelah berada di tempat syuting ceramah Ustadz Jefri. Suasana yang sejuk makin terasa teduh setelah mendengarkan ceramah Ustadz Jefri yang kala itu terdengar cukup keras. Puluhan jemaah yang sebagian besar mengenakan pakaian berwarna putih tampak serius mendengarkan ceramah Ustadz Jefri. Sesekali terdengar gelak tawa dari para jemaah yang kebanyakan ibu-ibu itu setelah mendengar lelucon yang terlontar dari depan mimbar. Jefri memang tengah memberikan ceramah kepada puluhan jemaah untuk disiarkan di salah satu televisi swasta tanah air.

Setelah menuntaskan ceramahnya selama hampir dua jam, Jefri masih terlihat gembira meski sudah berjam-jam memberikan dakwah kepada para jemaah, Ia tidak terlihat lelah setelah ceramah. Jefri masih memperlihatkan senyumnya kepada para jemaah yang akan meninggalkan tempat. Ketika Realita berusaha untuk menghampirinya, Jefri masih saja tampak ramah menyambut kedatangan wartawan. Ia juga mempersilahkan wartawan untuk duduk dan langsung bercengkerama. Meski sempat terhenti ngobrol karena kedua anaknya menghampiri Jefri, obrolan akhirnya berlanjut kembali. Dari percakapan di waktu sore itulah, Jefri bersedia mengulas mengenai perjalanan hidup dan karirnya hingga ia mendapatkan kesuksesan sebagai penceramah seperti sekarang ini.

Terjerat Narkoba. Jefri kini ternyata bukanlah Jefri yang dulu. Di masa mudanya, Jefri hanyalah seorang pemuda yang banyak melakukan perbuatan maksiat. Meski sempat mengenyam pendidikan di pesantren, itu bukan jaminan untuk membuat kepribadian dan sikap Jefri menjadi lebih baik. Pendidikan agama yang kuat dari orang tua menjadi asupannya sehari-hari. Pada usia sembilan tahun, Jefri sudah dapat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Didikan orang tuanya memang sangat kental dalam membentuk kepribadian seorang Jefri.

Namun sebaliknya, selepas pendidikan di pesantren, Jefri malah menemukan kebebasannya sebagai anak muda yang selalu ingin mencoba hal-hal baru. Pada saat itulah, Jefri masuk ke dalam dunia kelam, dunia yang dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan dosa. Selama bertahun-tahun, Jefri bergaul dengan berbagai macam obat-obatan terlarang. Tidak ada lagi benteng agama yang didapatnya dari pesantren. Yang ada hanyalah keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru dan menggoda. Ditambah lagi perasaan frustasi yang ia rasakan dalam hidupnya. Semuanya bercampuraduk menjadi satu dan menjelma sebagai motivasi bagi dirinya untuk lebih terjerambab di dunia yang kelam.

Awal mula Jefri masuk ke dalam jeratan Narkoba saat ia terjun di dunia entertainment. Kala itu, Jefri diperkenalkan dengan dunia artis di mana segala macam godaan berseliweran. Dari situlah, Jefri mengenal benda haram yang disebut Narkoba itu. Sekitar tahun 1991, Jefri memang mulai ikut terlibat di dalam dunia entertainment. Dari dunia itu pula, ia mampu meraih lembaran-lembaran uang dengan mudahnya. Kondisi ini mengakibatkan pribadi Jefri semakin tertantang untuk mencoba hal-hal baru. “Namanya juga masih muda,” ujar Jefri sembari tersenyum.

Saya pakai Narkoba karena saya ingin mati akibat frustasi dalam hidup,” imbuhnya. Gaya hidup Jefri yang dulunya hanya berkutat di dalam pesantren, setelah terjun di dunia entertainment, berubah 180 derajat. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di diskotek dan bar. Minuman-minuman beralkohol pun telah diakrabinya selama beberapa tahun. Seiring berjalannya waktu, Jefri semakin terpuruk dengan kondisi tersebut. Ia semakin sulit untuk lepas dari dunia yang kelam itu.

Uang bayaran dari hasil menjadi penari latar dan fashion show kala itu, kerap digunakan untuk membeli Narkoba. Tak heran, uangnya tak pernah tersisa. Jefri juga pernah mencicipi dunia akting dengan turut berperan di beberapa sinetron. Di antaranya adalah Sayap-sayap Patah, Opera Tiga zaman, dan Kerinduan. Terjunnya Jefri di dunia akting ternyata tidak serta merta disetujui oleh kedua orangtuanya, H. Ismail dan Hj. Tatu Mulyana. Kedua orang tuanya yang memiliki latar belakang agama yang kuat membuat Jefri terhambat dalam menekuni karirnya. Pasalnya, kehidupan artis yang tak bisa lepas dari dunia malam membuat kedua orang tuanya tidak menyetujuinya.

Dari waktu ke waktu, Jefri semakin tenggelam dengan obat-obatan terlarang yang dikonsumsinya. Ia semakin frustasi, akibatnya ia makin gemar mengkonsumsi shabu-shabu. Dari dalam dirinya pun sudah tak ada lagi kemauan untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar. Namun, ketika sang ayah meninggal pada tahun 1992, Jefri semakin terpuruk dalam dunia Narkoba. Ia merasa sudah tak bisa lepas lagi dari jeratan obat-obatan terlarang.

Kehidupannya pun semakin tidak terkendali dan berantakan, termasuk studinya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Konsekuensinya, ia harus menyandang predikat drop out (DO) dari kampusnya. Ia kemudian dikeluarkan oleh pihak kampus, karena tidak pernah membayar uang kuliah. Uang dari orang tua yang seharusnya digunakan untuk biaya kuliah, sudah ia gunakan semuanya untuk membeli serbuk haram tersebut.

Ketergantungannya pada Narkoba mengakibatkan ia beberapa kali mengalami over dosis (OD) meski tidak sampai berakibat fatal. Dunia Jefri semakin gelap seakan-akan tak ada lagi harapan. Tidak ada lagi cita-cita yang mungkin bisa tercapai. Yang ada hanyalah kehancuran yang semakin lama makin jauh terperosok.


Mendapatkan Titik Balik. Ternyata Jefri tidak terus menerus terkekang dalam dunia Narkoba. Jefri percaya ia telah diberikan suatu hidayah agar mampu berubah dan kembali ke jalan yang benar. Perubahan itulah yang kini mengubah nasib Jefri yang sebelumnya hitam kelam. Perubahan itu pula yang menjadikan Jefri sebagai ustadz muda yang kerap wira-wiri di layar televisi.

Namun, yang terpenting dari segalanya, Jefri mampu mengubah jalan hidupnya yang sempat berbelok dari jalur yang seharusnya ia jalani. Jefri baru merasakan mendapat hidyah setelah ia sempat mengalami kejadian-kejadian yang sulit untuk dijelaskan secara logika. “Saya sempat bermimpi yang aneh,” ujar Jefri. Di dalam mimpinya tersebut, Jefri melihat jenazahnya sedang disiksa oleh malaikat akibat dari segala macam perbuatan maksiat yang telah ia perbuat. Tak hanya itu, ia juga sempat melihat banyak kehancuran di dunia ini setelah kiamat datang. Di dalam mimpinya, ia juga diperlihatkan banyak cahaya putih. Sementara Jefri berjalan di tengah-tengah kuburan.

Terasa banget kok saat disiksa,” imbuhnya. Selain itu, motivasi dari keluarga, menjadi latar belakang Jefri untuk berubah. Salah satu orang yang paling berjasa dalam proses perubahan hidupnya itu tidak lain adalah ibunya, Hj. Tatu Mulyana. Sebagai seorang ustadzah, Tatu tak pernah berhenti untuk memberikan nasihat kepada anak lelakinya itu. Namun, seperti yang diakui Jefri, perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kemauan yang timbul dari dalam dirinya.

Selama bertahun-tahun Jefri bergelut dengan dunia kelam, Jefri merasakan adanya kelelahan di dalam dirinya. “Saya sudah lelah hidup di dunia seperti itu,” ujar pria kelahiran Jakarta, 12 April 1973. Diakuinya pula, ia memang bertekad untuk berhenti dari dunia yang menghancukan kehidupannya tersebut dan berusaha untuk kembali ke jalur yang benar. “Ibaratnya seorang bayi yang tidak selalu akan menjadi bayi,” ujarnya sedikit berfilsafat.

Berkat keinginan yang kuat yang hadir di dalam dirinya tersebut, Jefri lambat laun mampu keluar dari lingkaran setan. “Saya ibarat segelas air ditambah terus airnya hingga tumpah. Itulah perbuatan maksiat yang sudah saya lakukan,” ujar Jefri. Sehingga kala itu Jefri sudah tidak kuat lagi untuk tetap melakukan perbuatan maksiat. Perlahan-lahan, ia kembali sadar akan artinya hidup yang dijalaninya. Keputusan pun telah diambilnya. Ia akan melakukan taubat sebelum kejadian di dalam mimpinya tidak terjadi di kehidupan nyata.

Sebagai salah satu langkah untuk membersihkan diri dari segala dosa, ia memutuskan untuk pergi umrah ke tanah suci. Di Mekkah itulah, ia mencurahkan segala isi hatinya tentang perbuatan-perbuatan dosa yang pernah ia lakukan. Di tanah suci, Jefri tak segan-segan menangis sembari menyesali segala perbuatan yang ia telah lakukan selama masa mudanya. “Setelah menangis, saya merasa lega,” kenang pria yang pernah berlatih tari bersama Adtya Gumay, seorang penata koreografi ini. Di tanah suci itu pula, ia mengalami suatu kejadian yang membuatnya bertaubat atas segala perbuatan yang telah ia perbuat.

Kini, perubahan dalam dirinya telah menampakkan hasil. Jefri telah lahir kembali menjadi manusia yang lebih bermakna. Dengan ceramah-ceramahnya yang menarik, Jefri semakin laris manis muncul di layar kaca. Tak hanya itu, ia juga disibukkan dengan jadwal ceramah yang tak pernah berhenti. Jefri menjadi penyebar agama padahal sebelumnya ia justru menjadi perusak agama. Dengan masa lalunya yang kelam, ia kini mendapatkan pelajaran yang berharga, pelajaran yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sosok pejuang agama.

Membangun Keluarga. Seiring dengan perjalanan karirnya yang cukup sukses, kehidupan keluarganya pun semakin membaik dan harmonis. Memiliki istri yang anggun dan menawan, adalah salah satunya. Bahkan Pipik selalu menemani Jefri semenjak Jefri masih terlibat obat-obatan terlarang. Pernikahannya yang sudah belasan tahun telah menghadirkan manusia-manusia baru di dalam hidupnya. Dari penikahannya dengan Pipik, Jefri memperoleh dua orang anak. Adiba Khanza Az-Zafira (7) dan Abidzas Al Ghifari (6). Keduanya selalu mengisi hari-hari Jefri bersama keluarga. Dari keduanya pula, Jefri menemukan perannya sebagai seorang ayah.

Meski disibukkan dengan kegiatan dakwah dan syuting beberapa acara televisi, Jefri masih masih meluangkan waktu bersama keluarga. Untuk kedua anaknya tersebut, Jefri lebih banyak membebaskan keinginan mereka. Ia juga memiliki jurus ampuh untuk mendidik anak. “Anak-anak itu selalu mengikuti apa yang dicontohnya,” ujar Jefri yang beberapa waktu lalu meluncurkan situs Ujecentre ini.

Dengan begitu, Jefri hanya berusaha untuk memberikan contoh baik di depan kedua anaknya tersebut. Soal cita-cita kedua anaknya, ia telah dibebaskan sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Tidak ada waktu pasti yang sengaja ia luangkan bersama istri dan kedua anaknya. Meski begitu, ia masih dapat meluangkan waktu bagi kedua buah hatinya itu. Salah satunya adalah dengan bermain bersama.

Tempat bermain favorit adalah di Timezone,” ujar Pipik, istri Jefri. Di dalam rumah, Jefri bahkan menyempatkan diri untuk dapat bermain playstation bersama kedua anaknya itu. Bermain futsal juga menjadi salah satu acara favorit keluarga. Jefri memang lebih dikenal dengan keluarganya yang harmonis. Kini, Jefri telah banyak berubah sebagai akibat dari masa lalunya yang dijadikan sebagai masa pembelajaran. “Saya tidak pernah menempatkan masa lalu saya sebagai kesalahan tepi sebagai masa pembelajaran,” ungkap Jefri dengan mantapnya. Fajar

Side Bar 1………

Menyatakan Tobat dengan Membenturkan Kepala di Ka’bah

Jefri memang mengakui bahwa banyak perbuatan maksiat telah ia akrabi sejak ia menginjak masa muda. Namun, ia dapat berubah dan bertaubat atas segala perbuatannya di masa lampau setelah ia diberikan hidayah untuk berubah. “Saya sudah lelah dengan perbuatan maksiat,” ungkap Jefri. Berkat hidayah itulah, Ia mampu membangkitkan keinginannya untuk berubah menjadi orang baik.

Salah satu hidayah yang pernah dialaminya adalah ketika ia menjalani umrah di Tanah Suci. “Waktu itu, saya mengunjungi makam Rasulullah,” kenang Jefri. Pada saat mengunjungi makam Rasulullah itulah, Jefri merasakan ada sesuatu yang menarik lehernya. “Saya ditarik kayak magnet,” tambahnya. Tiba-tiba, Jefri melihat semua perbuatan yang pernah ia lakukan di masa lampau. Perbuatan-perbuatan dosa itu secara gamblang diperlihatkan kepada dirinya. Tak ayal, Jefri merasakan penyesalan yang begitu dalam. Air mata pun jatuh deras tiada henti bersama penyesalan yang keluar dari dalam dirinya. Baginya, kejadian tersebut menjadi suatu hidayah bagi dirinya agar dapat berubah dan tidak mengulangi perbuatan dosa berikutnya.

Tak hanya itu, rasa penyesalan Jefri juga diungkapkannya di depan Ka’bah. Di depan rumah Allah itulah, Jefri membentur-benturkan kepalanya ke dinding Ka’bah. Di tempat suci itu pula, ia berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Saya membentur-benturkan kepala ke dinding Ka’bah berkali-kali,” ujar Jefri. Di depan Kabah pula, ia meminta kepada Allah. “Ya Allah, kalau saya bermanfaat untuk agama ini, sembuhkan saya. Tapi kalau sepulang dari sini, saya berbuat maksiat lagi, saya hanya minta matikan saya saja,” pintanya.

Permintaan itu diakui Jefri memang pada dasarnya tidak diperbolehkan. Namun, ia tidak memiliki pilihan. “Kalau bicara kapan saya harus mati, banyak waktu saya akan mati,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Rasa penyesalan memang tak pernah berhenti begitu saja. Berkat pergi umrah tersebut, Jefri mengubah sisi buruknya menjadi sisi yang kini menjadi unggulannya. Ia kini menjadi penyebar dakwah yang merupakan perbuatan mulia di hadapan Tuhan. Fajar

Side Bar 2……

Berencana Mendirikan Pesantren untuk Anak Yatim

Ada salah satu rencana mulia yang ingin direalisasikan Jefri. Rencana tersebut merupakan rencana yang bersakala besar. “Saya sedang membangun pesantren,” ungkap Jefri singkat. Dengan sukses yang dapat diraihnya saat ini, mungkin banyak yang menduga bahwa pundi-pundi uang tentu saja menghampiri dirinya. Terlebih lagi, Jefri tidak hanya berperan sebagai penceramah saja, ia juga menekuni karir lain sebagai penyanyi dan bintang iklan.

Ternyata pundi-pundi uang yang dikumpulkannya tidak melulu untuk kebutuhan pribadinya saja, melainkan untuk kepentingan bersama. Salah satunya adalah dengan membangun pesantren di daerah Cikeas, Bogor. Pesantren tersebut rencananya untuk anak-anak kurang mampu dan yatim piatu. Meski begitu, seperti diakui Jefri, ada sisi komersial yang akan dijual melalui pesantren ini. Dengan begitu, dana yang didapat dari sisi komersil tersebut dapat digunakan untuk membiayai keperluan anak-anak kurang mampu yang masuk pesantren. Pasalnya, anak-anak kurang mampu dan yatim piatu tidak akan dipungut biaya dalam menjalani kegiatan belajar di pesantren. “Target kita memang bagaimana mencerdaskan anak-anak bangsa,” ungkap Jefri.

Sekarang ini, pembangunanya belum dilakukan. Rencananya bulan Mei atau Juni mendatang. Peletakan batu pertama akan dilakukan oleh Jefri sendiri. “Lahannya baru saja dipatok-patok,” aku Jefri. Tanah seluas puluhan hektar tersebut akan dibangun pesantren cukup besar. Jefri juga mengaku bahwa ia tengah mengumpulkan biaya untuk mendirikan pesantren yang terletak di Cikeas, Bogor ini. Nama yang akan dipakai untuk pesantren itu pun belum ditentukan dengan pasti.

Saya masih bingung menentukan nama pesantrennya,” ujar Jefri. Meski begitu, ada beberapa nama pesantren yang kemungkinan besar akan dipertimbangkan untuk dipakai. Seperti Pusat Tarbiyah Ma’arij atau Uje Centre. Jefri berharap pembangunannya dapat segera dimulai agar peresmiannya juga dapat dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu lama. Selain akan membangun pesantren, Jefri juga kini tengah merencanakan suatu program dalam rangka membantu orang kurang mampu.

Kita sedang mencari orang-orang cacat untuk diberdayakan,” aku Jefri. Saat ini, baru dua orang cacat yang bergabung dengan program Jefri. Salah satu orang cacat yang telah bergabung, diberdayakan untuk membuat rumah boneka barbie yang nantinya akan dijual ke pasar. Rencananya, Jefri akan mencari sekitar 30 orang cacat untuk mengikuti program tersebut. Fajar

Side Bar 3…..

Pipik Dian Irawati, Istri Ustadz Jefri Al Buchori

Setia Dampingi Jefri dalam Suka dan Duka

Sosoknya yang anggun dan menawan selalu berada di samping Jefri. Kerudung yang dipakainya pun menambah citra wanita muslimah sejati. Senyumnya khas selalu tersungging dari bibirnya ketika menemani sang suami. Adalah Pipik, istri Jefri yang selalu menemaninya ke mana pun Jefri berada. Bahkan ketika Jefri masih bergelut dengan dunia hitam Narkoba, Pipik selalu menjadi sosok wanita penyemangat agar Jefri kembali ke jalan yang benar.

Cintanya yang besar, mendorong Pipik untuk selalu berada di samping Jefri. Ketika masih pacaran dan mengetahui bahwa Jefri seorang pecandu Narkoba, Pipik tetap setia mendampinginya. Bahkan pada tahun 1999, Pipik memantapkan diri untuk menikah dengan Jefri. Hanya dengan bermodalkan honor iklan yang diterima Pipik, mereka nekat melangsungkan pernikahan. Pipik beralasan, dengan jalan itulah, Pipik bisa membantu dan mengarahkan Jefri kembali ke jalan yang benar meski ia sadar harus melalui berbagai hambatan. Salah satunya adalah ketika malam pertama mereka yang hanya diwarnai dengan tingkah laku Jefri yang aneh. Mererka pun melwati malam pertama bersama Narkoba.

Waktu pun berjalan, akhirnya Jefri mendapatkan hidayah untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Jefri pun berusaha untuk mencari pekerjaan. Setelah umrah, Jefri mulai memberikan ceramah-ceramahnya di Masjid. Dari honor ceramahnya itulah, Jefri kemudian kembali merangkai puing-puing kehidupannya yang sempat berantakan. Kini, pasangan Jefri dan Pipik memang dikenal sebagai keluarga yang harmonis. Kedua anaknya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Jefri. “Anak-anak boleh menjadi siapa saja, asalkan tetap menjadi santri,” ujar Jefri penuh harap.

Di mata Pipik, Jefri merupakan suami yang pantas menjadi panutan. “Sosok yang menyenangkan, bisa menjadi teman dan suami di dalam keluarga,” ungkap Pipik yang tengaah hamil tujuh bulan ini. Jefri juga dikenalnya sebagai suami yang disiplin dalam hal agama. “Dia selalu berusaha untuk shalat berjamaah,” tambahnya. Pipik memang sudah jatuh hati pada Jefri sejak petemuan pertama. Karena pribadinya yang mudah bergaul, Pipik langsung merasakan getaran cinta pada Jefri. Fajar

(http://fajar-aryanto.blogspot.com)

Selasa, 21 Desember 2010

Surat Dari Seorang Ibu

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih anak Sepanjang Galah
Kita tentu sudah tidak asing dengan peribahasa di atas. Betapa tidak, dari mengandung, melahirkan sampai membesarkan, peran ibu tak terbilang dan tak terkata besarnya. Pengorbanan seorang ibu tak diragukan lagi, terbersitkah kita bagaimana dia mengabaikan kebutuhannya untuk mendahului permintaan kita, Surat ini benar-benar menyentuh hati, ketika membaca tulisan ini siapapun merasa trenyuh dan larut dalam suasana haru, kecuali yang berhati batu. Terbayang wajah ibu saya, yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan dengan penuh kasih sayang. Ibu adalah yang terbaik bagiku. Tak pernah ada kata tidak untuk kami anak-anaknya ketika meminta sesuatu.
Semoga Allah membalas kebaikan ibu dengan pahala yang besar. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberi petunjuk kepada saya untuk selalu memperlakukan ibu dengan baik serta mengasihinya sebagaimana ibu mengasihi kami, anak-anaknya.
Robbigh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii soghiiroo

Silahkan dibaca …………..

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!

Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!

Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau berkata: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.

Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.

Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu

[Diketik ulang dari buku ‘Kutitip Surat Ini Untukmu’ karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc rahimahullah]

fr. http://hendro.blogspot.com

Jumat, 01 Oktober 2010

" RENUNGAN MALAM PERTAMA "




azz Adeeth ألفقير

Satu hal sebagai bahan renungan kita…
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Mauuut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanaksaudara
Hari itu…mempelai sangat dimanjakan
Mandipun…harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka….
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu…
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang – lubang itupun ditutupi kapas putih…
Itulah sosok kita….Itulah jasad kita suatu saat nanti.

Setelah dimandikan,..
Kitapun akan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
harum Wewangian ditaburkan ke baju kita…
Bagian kepala,..badan,.. dan kaki diikatkan
Renungkanlah,...Renungkanlah wahai sahabatku,...
Wajah kita beratap Keranda pelaminan
langsung disiapkan Pengantin bersanding sendirian…

Mempelai di arak keliling kampung
bertanduhkan keranda Menuju istana keabadian
sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para pengantar kita
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus
Akad nikahnya bacaan talkin…
Berwalikan liang lahat..
Saksi – saksinya nisan yang tlah tiba duluan menanti
Siraman air mawar pengantar akhir kerinduan
dan akhirnya Tiba masa pengantin Menunggu dan ditinggal sendirian…
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan

Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap – rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi….
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat…
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur…
Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur…..
Kita tak tahu…dan tak seorangpun yang tahu….
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan… .
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata…
Seolah barang berharga yang sangat mahal…

Dan Dia Kekasih itu..
Menetapkanmu ke syurga.. Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga…
Tapi….tapi ….wahai sahabatku,....
apakah kita sudah pantas DGN amal ibadah kita selama ini…
Untuk disebut sebagai ahli syurga ,..........???!

Wallahu a’lam bish showab.

Saudariku,.....
kalau tulisan ini bermanfaat.. ..
Silakan di print dan ukhti simpan sebagai RENUNGAN…
Smoga dgn Renungan ini lbh bs meningkatkan ketaqwaan kita kpd ALLAH SWT.

Amieeeeeeeeeennnn,.....61x.

CIREBON, jum'at 17 September 2010.

fr. temannya teman

Gempa dan Kita





oleh: Prof. Irwan Prayitno

Genap satu tahun negeri ini mendapat musibah gempabumi. Kerusakan dahsyat menyebabkan banyak penduduk yang kehilangan rumah karena tidak bisa ditempati maupun kehilangan harta benda lainnya dan juga kehilangan orang-orang yang dicintai.

Sebagai manusia, wajar kita bersedih. Namun sebagai umat beragama, kita juga harus menerima takdir Allah tersebut. Allah memang akan memberikan cobaan kepada manusia.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar: (QS Al Baqarah:155).

Sabar merupakan sikap yang harus diambil oleh manusia dalam menerima cobaan Allah tersebut. Dengan bersabar, hati akan menjadi lapang dan optimis menatap masa depan.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS Al Baqarah:153).

Di samping cobaan, Allah juga memberikan suatu syarat untuk menghilangkan cobaan dan mendatangkan berkah. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS Al-A’raf:96).

Beriman dan bertakwa adalah syarat bagi manusia untuk mendatangkan berkah Allah dari langit dan bumi serta syarat terhindar dari bencana. Sebaliknya, bila manusia mendustakan Allah akan muncul siksa.

Di zaman Rasulullah, pernah terjadi gempa ketika Rasulullah dan sahabat naik ke gunung Uhud. Tiba-tiba gunung berguncang hingga batu-batu berjatuhan. Kemudian Rasulullah menenangkan guncangan dan berkata kepada para sahabat, “Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran”. (Ibnu Abid Dunya).

Di zaman kekhalifahan Umar bin Khaththab r.a juga pernah terjadi gempabumi, kemudian Umar berkata, “Wahai manusia, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi jiwaku yang di tanganNya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya”. (Ibnu Abid Dunya).

Ummul mukminin Aisyah r.a ketika diminta menjelaskan tentang gempa menyatakan, “Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik (yang melalaikan kewajiban kepada Allah), Allah azza wa jalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka!.

Kemudian Aisyah menambahkan bahwa gempa tersebut adalah nasihat dan rahmat bagi orang yang beriman, dan azab bagi orang yang mengingkari dan menyombongkan diri kepada Allah”. (Ibnu Qayyim, Al Jawabul Kafi).

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa satu tahun yang lalu agar negeri ini mendapat limpahan berkah dari Allah SWT. Di antaranya adalah dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan, melakukan berbagai antisipasi (misal: menyiapkan bangunan tahan gempa), serta mentaati dan memperhatikan aturan keselamatan dan evakuasi. (*)

fr. http://www.hariansinggalang.co.id